Kisah inspiratif tentang sayur pakis (paku) dan pepaya muda.
14:39
Hi hari ini aku balik lagi untuk cerita sayur pakis dan pepaya muda. Sorry banget nih baru muncul di blog lagi. Sibuk dengan kerjaan dan kehidupan yang turun naik. Hehehehe
Well sebagai anak SMA waktu itu, di pikiran aku bahwa tinggal sendiri itu hal yang menyenangkan. Tidak ada omelan dari orang rumah kalau mau bangun tidur jam berapa, atau pun kalau ada piring kotor menumpuk ya gak bakalan di teriakin. Aku hanya memikirkan hal-hal seperti itu. Namun tinggal jauh dari keluarga itu ada enak dan tidak enaknya juga.
Viona dan Lili merupakan anak dari pulau seberang yang melanjutkan sekolah mereka di kampung kami. Viona bercerita bahwa dia dan Lili tinggal di sebuah kos yang dindingnya dari kayu. Jadi di dalam kamar kos mereka ada sebuah lampu 5 watt untuk penerangan tapi harus di share dengan kamar kos di sebelah mereka. Tidak paham? Jadi kan ada dua kamar kos yang berdekatan nih, satu kamar nih punya Viona dan Lili sedangkan kamar yang satunya punya anak kos lain. Dua petak kamar ini di pisah dengan dinding kayu di mana bagian atap langit-langit tidak tertutup full. Lampu 5 watt itu di gantung tepat di atas dinding kayu kamar pemisah tersebut. Paham sekarang?
Bisa kebayangkan lampu 5 watt ini kan kek remang-remang gitu trus di share sama dua petak kamar. Kalau mereka mau belajar yah harus pake bantuan pelita. Kata mereka tiap pagi kalau mau ke sekolah harus saling cek lubang hidung mereka hitam atau tidak. Saking sering belajar semalaman pake pelita.
Orang tua mereka adalah petani jadi kehidupan mereka sehari-hari harus menunggu kiriman uang dari orang tua. Kadang jika uang bulanan mereka sudah habis, tidak enak minta lagi dari orang tua. Soalnya mereka sadar kalau orang tua mereka juga serba kekurangan.
Suatu hari setelah pulang sekolah Viona dan Lili berharap kalau orang tua mereka sudah mengirimkan uang untuk mereka, tapi ternyata belum. Karena tidak ingin berhutang di kios mereka berdua pergi ke hutan untuk ambil sayur pakis. Di kampung kami saat itu masih di keliingi hutan jadi sayur pakis tumbuh subur. Sayur pakis di ambil secukupnya.
Pulanglah mereka ke kos dan melewati rumah tetangga dimana ada pohon pepaya yang berbuah lebat. Mereka memberanikan diri untuk meminta satu buah pepaya yang masih muda dan untungnya di beri sama tetangga itu. Sesampai di kos, keduanya bingung mau di apakan sayur pakis dan buah pepaya muda ini. Tidak ada bumbu dapur dan tidak ada minyak di kompor. Alhasil di buatlah sebuah tungku kayu untuk memasak. Sayur pakis dan pepaya muda ini cuman di rebus menggunakan air dan garam. Tidak ada nasi atau pun ikan. Itu menjadi makanan mereka. Kami anak-anak kelas mendengar cerita itu merasa sedih namun aku masih ingat dengan jelas bahwa mereka bercerita sambil tertawa.
Terakhir aku dengar kabar bahwa keduanya kuliah jurusan matematika dan kimia. Keduanya pun sudah wisuda. Dimana pun kalian berada aku harap kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertai hidup kalian. Amin.
Kalian pernah gak punya pengalaman yang sama? Cerita juga dong...
Komentar
Posting Komentar