Kisah inspiratif tentang sayur pakis (paku) dan pepaya muda.

 21:53

Hi, apa kabar? Aku harap kabar kalian baik-baik aja dan tetap semangat melihat yang lain telah melanggeng ke pelaminan. Hehehehe...

Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah sayur pakis dan pepaya muda yang saling mencintai. Gak ding bercanda!  😄

Beberapa hari yang lalu aku sempat bertanya di instagram story tentang apa yang ingin followersku baca di blog aku berikutnya. Dan beberapa meminta untuk menceritakan kisah inspiratif. Gak perlu berpikir lama dan tak perlu menggali ingatan yang sudah berlalu tentang apa yang harus aku ceritakan, dengan secepat kilat kisah sayur pakis (paku) muncul di kepala dan berkata "aku disini, aku disini." Oh iya sebelum itu aku mau bilang kalau sayur pakis ini di daerahku tak lain dan tak bukan di kota Ambon biasanya di kenal dengan nama sayur paku. Jadi sering banget kita buat joke tentang makan sayur paku dan sayur bambu (rebung) kalau keluar bakalan jadi pagar. 😂

Kisah ini terjadi saat aku masih berada di kelas 3 SMA, hampir 10 tahun yang lalu. Seperti yang sudah aku mention di atas bahwa aku berasal dari kota Ambon, tepatnya dari desa Hila-kecamatan Leihitu.   Aku bersekolah di SMA Negeri 1 Leihitu (sekarang sudah menjadi SMA Negeri 26 Maluku Tengah). Sekolahku ini merupakan sekolah tertua di kecamatan tempat aku tinggal dan juga menjadi salah satu sekolah yang menjadi tempat anak-anak dari desa lain, kecamatan lain dan juga dari pulau-pulau tetangga untuk melanjutkan pendidkan mereka.

Singkat cerita aku di tempatkan di kelas 3 IPA 1 (sistim pembagian kelas menurut nilai berdasarkan kurikulum pada saat itu). Di kelasku ini ada juga anak-anak dari pulau seberang dan kalian tau? Mereka jago banget hitungannya. Mau itu matematika, fisika apalagi kimia jago banget. Aku bahkan sempat mikir mereka makan apa, belajarnya di rumah gimana sampai bisa sejago itu. Guru kimia aku pada jaman SMA menakutkan banget soal nilai dan disiplin. Aku masih ingat dengan jelas saat pertama kali beliau menjadi guru kimia kami, semuanya mendapatkan nilai di bawah angka 50 untuk kuis harian. Bukan sesuatu yang harus di banggakan! Mungkin penyebabnya adalah terlalu anggap enteng karena guru kimia sebelumnya sangat baik hati dan gak pelit soal nilai. Tapi setelah sekelas dapat nilai di bawah 50 kita belajar dengan sungguh-sungguh dan alhasil semunya aman dan tentram walaupun masih ada beberapa murid yang mendapatkan nilai di bawah rata-rata.

Dari beberapa anak yang dari pulau seberang ada seorang anak perempuan yang kalau bicara seperlunya saja dan cool menurut aku. Namun jangan di tanya soal Kimia, jago pake banget. Aku sempat bertanya padanya jika ada beberapa hal yang kurang aku mengerti dan dia menjawab hal yang harus perlu di jawab. Tidak ada basa basi seperti kamu di rumah pake sabun mandi apa? Tidur mimpi jadi astronot atau tidak?   Atau hal-hal lain yang emang lumrah di omongin sesama anak-anak cewek. Setelah ujian SMA kelas 3 berakhir kami mendaptkan banyak waktu libur, kadang harus kembali ke sekolah untuk bantu bersih-bersih atau mendapatkan informasi lebih lanjut dengan hasil ujian.

Siang itu setelah selesai bantu bersih-bersih di sekolah kami beberapa siswa perempuan dari kelas yang sama tidak langsung pulang melainkan tetap berada di kelas untuk ngobrol ini itu. Kebetulan salah seorang teman kelas kita membawa buah mangga muda untuk di makan bersama. Jadilah cerita tentang hidup pun bergulir. Untuk pertama kalinya anak perempuan yang tidak banyak bicara di kelas itu memulai percakapan denganku. Sebutlah namanya dia adalah Viona. Viona bertanya padaku mengapa aku sering sekali pergi ke dusun sebelah. Untuk informasi tambahan, ada sebuah dusun tetangga yang mana kebanyakan anak-anak dari pulau seberang tinggal di dusun tersebut. Aku menjawab dengan semangat bahwa rumah salah satu pamanku ada di dusun sebelah jadinya aku sering main kesana. Tentu saja aku penasaran kok Viona bisa tau aku sering main ke dusun sebelah. Belum sempat aku bertaya balik, Viona bertanya kembali apakah pamanmu yang memiliki kios sembako di depan jalan? Aku membenarkan pertanyaannya tersebut. Viona melanjutkan bahwa dia dan temannya yang juga sekelas dengan kami tinggal bersama di sebuah kamar kos tak jauh di belakang rumah pamanku. Sebutlah nama teman Viona adalah Lili.

Sontak aku pun berkata, "Enak banget tinggal sendiri, seru dong pastinya." Viona dan Lili saling berpandangan dan tertawa lebar. 

Hal apakah yang membuat mereka tertawa?

Nantikan kisah sedih part 2 Viona dan Lili di tulisan aku berikutnya...

P:S untuk foto aku dapat dari pinterest ✌🏽



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah inspiratif tentang sayur pakis (paku) dan pepaya muda.